MENINGKATKAN MUTU TANPA DIPUNGUT BIAYA

Oleh: Gesang Setyo Aji, S.HI, S.Pd.I

 

           Pendidikan sebagai sistem di suatu sekolah merupakan suatu keseluruhan yang utuh yang terdiri dari subsistem-subsistem yang saling berhubungan, saling terkait, saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sebagai sistem di suatu sekolah/lembaga pendidikan sub-sub sistemnya adalah kurikulum dan pembalajaran, organisasi dan kelembagaan, manajemen dan administrasi, keteganaan, peserta didik, pembiayaan, sarana dan prasarana, peran serta masyarakat dan iklim/budaya sekolah. UUD 1945 hasil amandemen yang tercantum pada Pasal 31 Ayat (2) yang berbunyi : Setia warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar pemerintah wajib membiayainya. Untuk menegaskan amanat  tersebut maka dalam UU Sidiknas Pasal 31 UU No 20/2003 Ayat (2) dinyatakan lagi bahwa : “ Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselengaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.” Jelas bahwa sesuai dengan amanat UUD 1945 hasil amandemen dan UU Sisdiknas 2003, hal ini dipertegas dikeluarkanya surat edaran Mendiknas Nomor 186/MPN/KU/2008 tanggal 2 Desember 2008 prihal Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2009, di perkuat oleh Mentri pendidikan Nasional Bambang Sudibyo melalui surat bernomor 23/MPN/KU/2009 yang berisi, kepala daerah baik gubenur, walikota/bupati diminta mengeluarkan peraturan daerah ( Perda ) atau keputusan gubenur, walikota,bupati tentang sekolah geratis dan mekanismenya sumbangan sukarela dari masyarakat mampu dalam membiayai pendidikan.

            Pendidikan yang berfokus pada mutu menurut konsep Juran adalah bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Masyarakat dimaksud adalah secara luas sebagai pengguna lulusan, yaitu dunia usaha, lembaga pendidikan lanjut, pemerintah dan masyarakat luas, termasuk menciptakan usaha sendiri oleh lulusan.

            Menurut Crosby mutu adalah sesuai yang disyaratkan atau distandarkan (Conformance to requirement), yaitu sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan, baik inputnya, prosesnya maupun outputnya. Oleh karena itu, mutu pendidikan yang diselenggarakan sekolah dituntut untuk memiliki baku.standar mutu pendidikan. Mutu dalam konsep Deming adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Dalam konsep Deming, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan keluaran, baik pelayanan dan lulusan yang sesuai kebutuhan atau harapan pelanggan (pasar)nya. Sedangkan Fiegenbaum mengartikan mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Dalam pengertian ini, maka yang dikatakan sekolah bermutu adalah sekolah yang dapat meuaskan pelanggannya, baik pelanggan internal maupun eksternal.

          Pencanangan sekolah geratis oleh pemerintah memang harus kita beri apresiasi yang positif, karena akan sangat membantu terhadap keluarga yang kurang mampu. Akan tetapi pendidikan geratis membawa dampak pada sejumlah persoalan. Pertama, kosakata dan implementasinya menimbulkan salah tafsir dan pertentangan pendapat. Di satu pihak gratis itu berarti tanpa ada pungutan apa pun, tetapi di pihak lain sering dikatakan gratis hanya untuk komponen tertentu. Kedua, kebijakan pendidikan gratis ternyata hanya menyangkut komponen biaya operasional, sedangkan biaya investasi dan biaya perseorangan (sesuai PP No 47/2008) tidak termasuk di dalamnya. Ketiga, implementasi pendidikan gratis terbukti meresahkan sekolah-sekolah swasta karena sumber pendanaannya yang kian terbatas/tersumbat karena masyarakat sering tidak amat peduli terhadap perbedaan negeri dan swasta dalam pembiayaan. Keempat bagaimana dengan sekolah swasta dan negri yang memiliki beragam exstrakulikurer sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) para siswanya.

          Era globalisasi telah dimulai diawali dengan AFTA 2003, disusul APEC 2010 hingga WTO 2020, segala aspek dan dampaknya mau tidak mau harus kita rasakan. Dengan kondisi krisis multidimensi di negara kita yang tak jua kunjung berakhir nampaknya akan semakin menyulitkan kita untuk mampu mengambil peran penting dalam pasar bebas. Namun demikian pasar bebas akan menjadi peluang besar jika kita mampu menyiapkan diri dengan baik. Pengembangan SDM terkait dengan sistem pendidikan nasional. Berdasar UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat , berilmu,cakap,kreatif, mandiri , dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk itu lembaga pendidikan disetiap jenjang dan jalur pendidikan memiliki misi strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang mulia tersebut.

         Kebijakan peningkatan mutu pendidikan seolah memang akan menjawab tuntutan mutu yang dilontarkan masyarakat. Namun kebijakan peningkatan mutu dari pemerintah tanpa didukung dana yang memadai akan semakin menjauhkan masyarakat dari dunia pendidikan . Sehingga realita yang terjadi malah semakin kontraproduktif. Tuntutan globalisasi mengharuskan adanya SDM berkualitas. Untuk mencetak SDM berkualitas dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai (terkait dana). Sementara dengan kondisi sosial ekonomi negara dan masyarakat saat ini tidak memungkinkan mengeksplorasi dana yang cukup untuk menunjang pencapaian kualitas pendidikan tersebut.

          Pendidikan yang berfokus pada mutu menurut konsep Juran adalah bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Masyarakat dimaksud adalah secara luas sebagai pengguna lulusan, yaitu dunia usaha, lembaga pendidikan lanjut, pemerintah dan masyarakat luas, termasuk menciptakan usaha sendiri oleh lulusan. Pada tulisan ini akan dipaparkan bagaimana peningkatan mutu terpadu sekolah agar dapat mewujudkan lulusan sesuai harapan para lulusan, orang tua, pendidikan lanjut, pemerintah dan dunia usaha serta masyarakat secara luas. Pembahasan dalam tulisan ini dimulai uraian tentang sekolah bermutu terpadu, kepemimpinan sekolah bermutu terpadu, kriteria penghargaan bagi sekolah bermutu terpadu, manajemen mutu terpadu dalam pendidikan, penerapan prinsip mutu dalam pendidikan, mengorganisasikan mutu, membentuk satuan tugas mutu, pemecahan masalah, biaya mutu, perbaikan berkesinambungan dan kesimpulan.

Sekolah Bermutu Terpadu

         Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang jika diterapkan secara tepat dapat membantu para pengelola atau penyelenggara pendidikan di lembaga pendidikan termasuk sekolah dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan dan lulusan yang dapat memenuhi atau melebihi keinginan atau harapan para stakeholder-nya.  

            Manajemen Mutu Terpadu yang sering disebut dengan  TQM (Total Quality Management) oleh Fandy diartikan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang berusaha memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan dengan manajemen mutu terpadu adalah menyelenggarakan pendidikan dengan mengadakan perbaikan berkelanjutan, baik produk lulusannya, penyelenggaraan atau layanannya, sumber daya manusia (SDM) yang memberikan layanan, yaitu kepala sekolah, para guru dan staf, proses layanan pembelajarannya dan lingkungannya.

         Proses menuju sekolah bermutu terpadu, maka kepala sekolah, komite sekolah, para guru, staf, siswa dan komunitas sekolah harus memiliki obsesi dan komitmen terhadap mutu, yaitu pendidikan yang bermutu. Memiliki visi dan misi mutu yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dan harapan para pelanggannya, baik pelanggan internal, seperti guru dan staf, maupun pelanggan eksternal seperti siswa, orang tua siswa, masyarakat, pemerintah, pendidikan lanjut dan dunia usaha. Oleh karena itu, upaya mewujudkan sekolah yang bermutu terpadu dituntut untuk berfokus kepada pelanggannya, adanya keterlibatan total semua warga sekolah, adanya ukuran baku mutu pendidikan, memandang pendidikan sebagai sistem dan mengadakan perbaikan mutu pendidikan berkesinambungan.

Berfokus kepada pelanggannya.

            Pelanggan lembaga pendidikan/sekolah terdiri dari pelanggan eksternal dan internal. Pelanggan eksternal utama sekolah adalah siswa dan sekaligus sebagai input utama (main input) yang akan diproses menjadi lulusan. Pelanggan eksternal kedua dan seterusnya adalah orang tua, dunia usaha, pemerintah dan pendidikan lebih lanjut. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa sekolah yang berumutu adalah sekolah yang dapat memenuhi atau melebihi keinginan, harapan dan kebutuhan pelangannya.

            Menurut Goetsch dan Davis pelanggan internal maupun eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas tenaga kerja, proses dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa. Oleh karena itu, dalam pendirian dan penyelenggaraan sekolah harus didahului dengan mengadakan penelitian dan bertanya kepada masyarakat luas, jenis, jenjang pendidikan dan program studi/jurusan apa yang dibutuhkan pada suatu daerah tertentu. Dengan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, maka tidak akan terjadi lulusan yang tidak diterima di masyarakat. Semua lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang sesuai dengan keinginannya, dapat diterima di dunia usaha atau dapat menciptakan pekerjaan sendiri serta dapat memperoleh penghasilan sesuai kebutuhan hidupnya. Jika semua lembaga pendidikan/sekolah telah mampu menyelenggaragan pendidikan seperti demikian hasilnya, maka akan terjadi stabilitas nasional baik dalam bidang ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

            Untuk mewujudkan pendidikan yang dapat memuaskan pelanggan eksternal seperti tersebut di atas, maka kepala sekolah terlebih dahulu harus memuaskan pelanggan internalnya, yaitu para guru, pustakawan, laboran, tenaga administrasi, tenaga keamanan dan tenaga kebersihan. Para personil yang merupakan pelanggan internal inilah merupakan pihak penentu dalam mewujudkan sekolah yang bermutu. Guru adalah pelaksana kegiatan inti (core business) sekolah yaitu proses pembelajaran yanag akan menentukan kualitas lulusannya. Pustakawan adalah SDM/personil yang memberikan layanan sumber pembelajaran tekstual untuk mendukung kegiatan akademik/pembelajaran. Laboran adalah personil/SDM yang mendukung kegiatan akademik/embelajaran siswa pada skala laboratorium sebagai kelanjutan atau membuktikan berbagai teori yang telah dipelajari melalui pembelajaran literatur. Tenaga administrasi adalah kegiatan pendukung, agar kegiatan akademik/pembelajaran di sekolah, baik administrasi akademik maupun administrasi non akademik dapat berjalan dengan baik. Tenaga kebersihan sebagai personil/SDM sekolah yang mendukung agar suasana sekolah tetap asri dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Dan tenaga keamanan bertanggung jawab untuk menciptakan suasana sekolah agar tetap aman dan terkendali.

            Kepuasan pelanggan internal sekolah pada dasarnya adalah jika mereka dapat bekerja atau menjalankan tugas dengan dukungan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai, mendapatkan kompensasi yang layak atas kinerja yang telah diberikan, baik dalam bentuk finansial, material maupun non material serta kesejahteraan secara luas. Sebagai wujud atau bukti adanya kepuasan pelanggan internal sekolah adalah para guru, tenaga admnistrasi, pustakawan, laboran, tenaga kebersihan dan kemanan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, sesuai sistem, prosedur dan tata kerja yang telah ditentukan. Dengan adanya kepuasan pelanggan internal ini diharapkan mereka dapat memuwujudkan kepuasan terhadap pelanggan eksternal sekolah

Adanya keterlibatan total semua warga sekolah.

            Keterlibatan total semua warga sekolah berarti sekolah dalam hal ini kepala sekolah menyusun organisasi, menganlisis jabatan dan pekerjaan, menyusun uraian tugas, menempatkan orang sesuai latar belakang pendidikan dan keahliannya serta sesuai dengan beban tugas dan pekerjaannya secara merata. Semua warga sekolah diberikan tugas dan fungsi sesuai keahliannya, sesuai bakat dan minatnya. Sebesar atau sekecil apapun, semua warga sekolah harus dilibatkan, diberikan tugas, peran dan fungsi dalam peningkatan mutu sekolah, mulai dari kepala sekolah itu sendiri, komite sekolah, para guru, staf tata usaha, pustakawan, laboran, siswa dan orang tua.

            Pelibatan semua warga sekolah itu harus berlangsung mulai dari planning, organizing, staffing, directing, commanding, coordinating, communicating, budgeting, leading, motivating, compensating dan sampai kepada controlling. Dengan pelibatan tersebut, maka mereka akan menjalankan tugas, peran dan fungsi serta pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab dan penuh komitmen. Pelibatan semua warga sekolah menurut Goetsch dan Davis sebagaimana di kutip oleh Ariani adalah merupakan bentuk pemberian kepuasan kepada pelangan internal agar mereka mau dan mampu memberikan layanan pendidikan yang memuaskan bagi pelangan eksternalnya. Pelibatan warga sekolah itu dalam seluruh proses atau kegiatan.

            Bentuk-bentuk keterlibatan guru dan karyawan sekolah dalam peningkatan mutu sekolah dapat berupa saran, baik secara pribadi maupun kelompok, baik atas permintaan pimpinan ataupun atas inisiatif sendiri, dibentuknya tim pemecahan masalah baik atas inisiatif kelompok maupun atas permintaan pimpinan, terbentuknya komite perbaikan mutu sekolah secara berkesinambungan, terbentuknya gugus kendali mutu sekolah dan terbentuknya kelompok-kelompok kerja dalam peningkatan mutu sekolah. Keberhasilan pemberdayaan guru dan karyawan pada suatu sekolah ditandai bahwa pekerjaan mereka milik mereka sendiri, meraka bekerja, menjalankan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab, mereka memahami betul posisi mereka berada dan mereka memiliki pengendalian atas pekerjaan mereka.

Adanya ukuran baku mutu pendidikan.

            Ukuran mutu menurut kriteria mutu Baldrige berfokus pada 7 area topik yang secara integral dan dinamis saling berhubungan, yaitu leadership, information and analysis, strategic quality planning, human resource management, quality assurance product of product and services, quality result and customer satisfaction. Dari 7 area topik ukuran kualitas di atas, jika diukur dengan Kriteria Baldrige Award maka perbaikan sistem manajemen kualitas adalah sebagai berikut :

1.      Kepemimpinan :

  • Kepala sekolah memiliki pernyataan kebijakan kualitas
  • Guru dan staf  serta seluruh warga sekolah mengetahui sasaran kualitas jangka panjang sekolah
  • Kepala sekolah terlibat secara penuh dalam pengembangan kultur kualitas sekolah
  • Kepala sekolah memiliki pelatihan yang tepat tentang konsep-konsep kualitas
  • Kepala sekolah mempraktikkan konsep-konsep kualitas yang diajarkan
  • Kebijakan kuaitas berlandaskan pada kebutuhan untuk perbaikan terus menerus
  • Tanggung jawab perbaikan kualitas telah secara jelas dikomunikasikan kepada seluruh warga sekolah
  • Komite kualitas sekolah mengkoordinasikan berbagai unit-unit sekolah
  • Masyarakat mengetahui sasaran kualitas sekolah
  • Kepala sekolah membrikan sumber daya yang cukup dan tepat untuk perbaikan kualitas

2.      Analisis dan Informasi :

  • Kepala sekolah melaporkan data tentang semua dimensi penting dari kualitas pelanggan sekolah
  • Guru dan karyawan melaporkan data tentang semua dimensi pelayanan yang penting
  • Data kualitas dilaporkan kepada semua unit-unit sekolah
  • Data tentang pelatihan manajemen kualitas dikumpulkan oleh tata usaha
  • Kepala sekolah menganalisis data tentang pandangan masyarakat terhadap kualitas sekolah
  • Kepala sekolah menganalisis biaya yang tidak efisien
  • Kepala sekolah mengidentifikasi kendala-kendala dalam mewujudkan kulialitas sekolah

3.      Perencanaan Kualitas Strategis :

  • Kepala sekolah menggunakan data kompetitif dari sekolah lain ketika mengembangkan sasaran kualitas
  • Kepala sekolah memiliki rencana operasional tahunan yang menggambarkan sasaran kualitas
  • Guru dan karyawan dilibatkan dalam perencanaan kualitas
  • Pimpinan unit-unit/komponen sekolah berusaha untuk mencapai sasaran kualitas
  • Fungsi kualitas merupakan bagian rencana kegiatan sekolah
  • Kepala sekolah memiliki metode spesifik untuk memantau kemajuan menuju perbaikan kualitas sekolah
  • Terdapat rencana kualitas yang mempengaruhi semua unit sekolah
  • Kepala sekolah memiliki rencana kualitas untuk masukan   

4.      Pengembangan Sumber Daya Manusia :

  • Kepala sekolah memiliki rencana peluang bagi guru dan karyawan dalam perbaikan kualitas
  • Kriteria kualitas digunakan dalam evaluasi performa SDM sekolah
  • Sasaran kualitas dikomunikasikan kepada semua guru dan staf
  • Guru dan karyawan percaya dan secara terus menerus memberikan layanan terbaik
  • Semua guru dan kaeyawan dilatih tentang konsep perbaikan kualitas
  • Kepala sekolah memberikan kompensasi/imbalan atas jasa guru/karyawan untuk usaha perbaikan kualitas mereka
  • Kepala sekolah mengumpulkan data tentang moral guru dan karyawan 

5.      Manajemen Kualitas Proses :

  • Ekspektasi kualitas dari pelanggan didefinisikan secara jelas
  • Kebutuhan pelanggan ditransformasikan ke dalam proses perencanaan untuk perbaaikan kualitas
  • Terdapat sistem yang efektif untuk memproses informasi tentang ekspektasi pelanggan
  • Kepala sekolah melakukan audit sistem manajemen kualitas
  • Kepala sekolah bekerjasama dengan stakeholder untuk meningkatkan kualitas
  • Unit-unit pendukung sekolah mendifinissikan sasaran kuaalitas
  • Kepala sekolah menyimpan dan mempertahankan dokumen-dokumen kualitas yang baru (tidak usang)
  • Terdapat sistem efektif untuk mengkomunikasikan ide-ide kualitas kepada kepala sekolah

6.      Hasil-hasil Kualitas :

  • Sekolah sekolah merupakan satu di antara tiga sekolah terbaik dalam lingkup kepuasan pelanggan
  • Kepala sekolah menunjukkan perbaikan kualitas terus menerus selama tiga tahun terakhir
  • Kepala sekolah dapat mendemonstrasikan perbaikan kualitas melalui unit-unit pendukung
  • Kepala sekolah dapat mendemonstrasikan perbaikan kualitas melalui stakeholder
  • Terdapat penurunan terus menerus keluhan pelanggan dalam waktu tiga tahun terakhir

7.      Kepuasan Pelanggan :

  • Kepala sekolah dapat menunjukkan bahwa pelanggan puas atas barang dan/aatau jasa yang diberikan
  • Kepala sekolah melaporkan data kepuasan pelaanggan
  • Kepala sekolah dapat menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelanggan meningkat terus menerus dalam waktu tiga tahun terakhir
  • Kepala sekolah dapat menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelanggan sekolah yang dipimpinnya lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah pesaingnya
  • Terdapat suatu proses efektif untuk menangani keluhan pelanggan
  • Definisi pekerjaan pendukung guru dan karyawan untuk secara tepat menyesaikan keluhan-keluhan pelanggan
  • Kepala sekolah menggunakan pendekatan inovatif untuk menilai kepuasan pelanggan.

Untuk mencapai mutu yang baik diperlukan penumbuhan kesadaran mutu pada pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat . Tumbuhnya kesadaran mutu bisa kita analogkan dengan. Kita akan rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli produk Jepang (motor, elektronik,mobil dll) yang relatif mahal karena kita percaya mutunya karena sudah terbukti dan teruji, namun kita akan berpikir dua kali lipat untuk membeli produk china (motor ,elektronik dll) yang relatif jauh lebih murah namun kita belum tahu mutunya karena belum teruji dan terbukti”. Analogi tersebut harus bisa kita gunakan untuk menyikapi mahalnya biaya pendidikan terutama di sekolah swasta dengan berbagai kegiatan exstra kulikulernya . Oleh karenanya yang perlu direnungkan/difikirkan dan bukan untuk didemonstrasikan oleh civitas akademika adalah mungkinkah meningkatkan mutu pendidikan tanpa dipungut biaya.

 

 

 

Bagikan konten ini :

0 Komentar

Tinggalkan Komentar Anda Dibawah Ini


Kontak Kami

SD Muhammadiyah Kleco Kotagede
(0274) 412662
(0274) 4340628
SD Muhammadiyah Kleco

"Unggul Dalam Prestasi, Luhur Budi Pekerti, Sadar Budaya, Sadar Lingkungan, Terampil dan Terwujudnya Insan Mutaqin"